Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMar 1, '06 3:04 AM
by Koko for everyone

Buku itu sudah berjam-jam ditunggu kedatangannya. Sebuah  buku berjudul Kupu-kupu dan Tambuli. Para penulis buku itu tak sabar. Ingin tahu. Cerpen siapakah yang paling bagus di buku itu ?

 

            Pertanyaan itulah yang terucap dari mulut beberapa peserta Peluncuran dan bedah buku antologi “Kupu-kupu dan Tambuli”, termasuk saya. Arul Khan, Beni Jusuf, Andi Biru Laut, Denny Prabowo, Jonru, Nurhadiansyah, Sakti Wibowo, Sokat, Taufan E. Praft, Zaenal Radar T dan saya sendiri, 11 dari 18 penulis buku, memadati Rumah Cahaya pada Minggu, 26 Pebruari 2006 untuk tahu, apa komentar komite DKJ terhadap cerpen-cerpen kami?

Meskipun sering tergabung dalam antologi bersama, buku “Kupu-kupu dan Tambuli” ini beda, sebab yang menjadi editor dan komentatornya adalah orang-orang yang berkompeten dan terhormat di jagat sastra Indonesia. Mereka adalah Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman , Maman S. Mahayana dan Helvy Tiana Rosa. Jadi, bagaimana pendapat mereka tentang tulisan kami?

            Pasa sesi pertama tanya jawab, belum ada kalimat komite DKJ yang memuaskan kami. Arul Khan mengulang kembali pertanyaan itu pada sesi tanya jawab kedua. Demi memuaskan para penulis, Agus R. Sarjono akhirnya berkomentar. Dan kalimat-kalimat yang meluncur Dari Mas Agus berubah menjadi peluru. Membuat saya jadi malu dan tergugu.

            “Saya tidak punya kewajiban untuk memuji. Kalau saya datang ke sini untuk memuji, bukan saya yang rugi. Saya bisa memuji anda selama satu jam. Anda akan pulang dan tidur dengan nyenyak. Bukan saya yang rugi, tapi anda. Anda akan merasa sudah damai dan tentram. Seperti kisah telenovela dimana penjahatnya tertangkap dan si pahlawan hidup berbahagia selama-lamanya dengan gadis cantik jelita. Penonton akhirnya puas karena merasa kejahatan sudah berhasil ditumpas. Orang baik menang. Padahal di dunia nyata kejahatan merajalela sedangkan orang baik entah dimana. Dan masalah tidak dipecahkan.”

            Saya yakin, siapapun yang hadir di Rumah Cahaya siang itu pasti akan tertohok dengan kata-kata Mas Agus ini. Sebuah sentilan cantik dari guru untuk murid-muridnya.

            “Kenapa saya tidak memuji ? Sebab terbitnya buku yang memuat cerpen anda ini adalah sebuah pujian tersendiri. Tidak semua orang, karyanya bisa diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dewan Kesenian Jakarta mempunyai tradisi yang panjang.  Sebagai salah satu, jika bukan satu-satunya, center of excelent terhadap seni di Indonesia. Jika sebuah buku diterbitkan oleh center of excelent, maka tidak patut memuji lagi. Pujian hanyalah untuk orang-orang yang malas belajar, bukan untuk seorang calon pendekar. Seorang calon pendekar harus sering dikritik, agar ia rajin berlatih. Bila calon pendekar dipuji, ia akan besar kepala dan mati dalam pertempuran sebab ia besar kepala karena pujian. Bahkan yang lebih parah lagi, si calon pendekar yang dipuji bisa berani menatang guru padepokan lain. Padahal baru beberapa jurus saja, si calon pendekar sudah terkapar tak berdaya oleh guru padepokan lain tersebut. Jadi terbitnya buku ini sudah lebih dari cukup dari pujian,” ujar Mas Agus lagi.    

            Suasana senyap. Tak ada suara hanya tarikan napas yang kalah oleh bising suara kendaraan bermotor di luar. Semua penulis FLP terdiam, mencerna setiap suku kata yang dilontarkan oleh Mas Agus. Mungkin selama ini kami, kita, saya terlalu banyak makan pujian, sehingga kadang-kadang jadi sombong dan besar kepala.

            “Pada satu tingkat tertentu semua cerpen ini baik. Jika dibandingkan dengan karya sastra lain di Indonesia, kualitasnya kurang lebih sama. Bukankah hebat, tuh hampir sama dengan seluruh karya sastra yang ada di koran. Tapi kalau kira-kira kualitasnya sama, DKJ tidak akan menerbitkan karya ini. Kami tidak suka dengan karya yang standarnya rata-rata. Sama. Buku ini adalah sebuah awal, bukan akhir. Jadi, ketika kami datang ke sini lagi beberapa tahun ke depan, anda semua harus sudah menulis di atas rata-rata dari kebanyakan karya sastra di Indonesia.”  

            Masih banyak nasehat yang diberikan oleh Mas Agus untuk kami. Hari itu saya bagaikan mendapatkan berton-ton harta karun untuk bekal hidup di dunia kepenulisan kemudian. Sungguh nasehat-nasehat itu meskipun menohok tapi mengena di hati. Nasehat itu adalah suplemen, vitamin, yang meskipun rasanya agak pahit tapi bisa membuat tubuh sehat dan kuat.

            Sekelumit nasehat dan komentar juga keluar dari mulut Maman S. Mahayana dan Jamal D. Rahman, mereka membahas beberapa cerpen, membedah kelemahannya. Mbak Helvy juga sedikit mengulas beberapa cerpen dalam Kupu-kupu dan Tambuli. Ia agak heran mendapati 40 cerpen yang masuk rata-rata menuturkan kekelaman. Kesedihan, penderitaan dan air mata. Bahkan 18 cerpen yang ada dalam buku tesebut berwajah muram semua. Kenapa ? Adakah pengaruhnya dengan kondisi negara yang tak kunjung sembuh dari sakitnya ? Bisa saja.

            Hari itu saya mendapat pelajaran, bahwa tidak penting pujian untuk seorang calon pendekar. Tidak penting untaian kata-kata indah bagi para mujahid yang meyerahkan hidupnya dalam kancah dunia kepenulisan. Perang kata-kata telah lama berkobar. Deru bising adu senjata telah lama berkorbar. Pujian bisa saja satu strategi musuh untuk melemahkan lawan. Membuat terlena dan akhirnya mati sia-sia dalam sanjungan.

            Saya harus berterima kasih pada ketiga guru yang sudah menyempatkan hadir di Rumah Cahaya. Dari mereka saya memperoleh pelajaran berharga, juga teman FLP lainnya. Andai acara seperti ini rutin diselenggarakan, saya yakin FLP pasti dapat menyumpal mulut-mulut orang yang hanya bisa meremehkan dan meledek tapi tidak bisa berkarya. FLP dapat bermain cantik, mengikuti selera pembaca sekaligus menghujamkan ideologi dan nilai-nilai kebenaran dalam tulisannya.

            Kupu-kupu dan Tambuli akan menjadi salah satu prasasti bagi saya dan teman-teman untuk berkaca, untuk berkarya lebih baik lagi. Saya, kita, kami telah dipercaya sebagai calon pendekar masa depan. Yang siap bertarung, bertempur hingga tetes darah terakhir. Tidak penting sebuah pujian. Pujian dapat melenakan, melemahkan. Merasa nyaman padahal dunia belum nyaman untuk tempat tinggal anak cucu di masa datang.    

 

 



laurakhalida wrote on Mar 2, '06
kasih tau doang... ada cerpen saya juga loh di sini
kokonata wrote on Mar 2, '06
Iya deh HALLO HALLO SEMUANYA, DI ANTOLOGI KUPU-KUPU DAN TAMBULI ADA CERPEN LAURA KHALIDA LOH. BAGUS BANGET!!! CERITANYA TENTANG MONAS YANG AMBRUK. TRUS ORANG-ORANG BEREBUTAN NGAMBILIN EMASNYA POKOKE RAME BELI YA. CUMA ADA DI STAN FLP DI WORLD BOOK DAY DIKNAS, 2-5 MARET 2005 Harganya cuma Rp 25.000 :-)
Add a Comment
   
FLP Depok
Join this Group!Add to My Yahoo
Report Abuse